
Padang — Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Barat 2026 menjadi momentum konsolidasi dunia usaha sekaligus mempersiapkan peluang ekonomi dari agenda Indian Ocean Rim Association (IORA) 2027.
Digelar bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT ke-58 Kadin, Rapimprov yang berlangsung di Hotel Santika Padang tersebut membahas sejumlah agenda strategis dunia usaha, mulai dari penguatan organisasi, pariwisata, perdagangan hingga peluang memperluas pasar komoditas Sumatera Barat.
Ketua Kadin Sumatera Barat, Buchari Bachter, mengatakan Rapimprov menjadi ruang bagi Kadin kabupaten dan kota, asosiasi usaha serta pelaku dunia usaha untuk menyampaikan berbagai masukan dalam penyusunan program kerja Kadin Sumbar tahun 2027.
Menurutnya, program yang disusun harus mampu menjawab kebutuhan dunia usaha sekaligus menyesuaikan dengan potensi ekonomi masing-masing daerah.
Salah satu peluang yang menjadi perhatian adalah penyelenggaraan forum IORA pada Juni 2027. Kadin Sumbar melihat agenda internasional tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan komoditas unggulan sekaligus potensi pariwisata Sumatera Barat.
“Komoditas Sumatera Barat harus kita siapkan untuk bisa diperkenalkan dan dijual pada forum IORA yang akan dilaksanakan pada Juni 2027,” ujar Buchari.
Ia mengatakan kesempatan tersebut membutuhkan persiapan sejak dini. Pelaku usaha tidak hanya perlu menyiapkan produk, tetapi juga kualitas, kapasitas produksi, kesinambungan pasokan, kemasan dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar internasional.
IORA Jadi Ruang Promosi Pariwisata
Selain perdagangan, IORA 2027 juga dipandang sebagai peluang untuk memperkenalkan destinasi wisata Sumatera Barat kepada delegasi dan peserta dari berbagai negara.
Buchari mengatakan pengembangan pariwisata memiliki dampak ekonomi yang luas karena berkaitan langsung dengan berbagai sektor lainnya.
Ketika kunjungan wisatawan meningkat, kata dia, manfaatnya dapat dirasakan oleh hotel, restoran, transportasi, UMKM, ekonomi kreatif hingga perdagangan produk lokal.
“Pariwisata ini memberikan multiplier effect. Ketika wisatawan datang, banyak sektor ekonomi yang ikut bergerak,” katanya.
Menurut Buchari, pendekatan Tourism, Trading and Investment (TTI) dapat menjadi salah satu kerangka dalam mengembangkan potensi tersebut. Pariwisata tidak hanya dipandang sebagai aktivitas kunjungan wisata, tetapi juga pintu masuk untuk perdagangan dan investasi.
Karena itu, Kadin Sumbar mendorong agar agenda internasional yang berlangsung di Sumatera Barat dapat dimanfaatkan untuk mempertemukan potensi daerah dengan peluang pasar yang lebih luas.

Konsolidasi Dunia Usaha
Ketua Panitia Pelaksana Rapimprov Kadin Sumbar 2026, Joni Mardianto, mengatakan Rapimprov juga menjadi bagian dari upaya memperkuat konsolidasi organisasi Kadin dari tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota.
Menurutnya, penguatan dunia usaha membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, Kadin, asosiasi usaha dan pelaku bisnis.
Dalam Rapimprov, sektor pariwisata menjadi salah satu perhatian karena Sumatera Barat memiliki potensi destinasi yang besar, namun masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk infrastruktur, keselamatan transportasi serta dampak berbagai bencana terhadap citra pariwisata.
Joni mengatakan berbagai agenda nasional dan internasional dapat menjadi instrumen untuk kembali memperkuat kepercayaan wisatawan terhadap Sumatera Barat.
Perkuat Keanggotaan Kadin
Selain agenda ekonomi, Rapimprov juga membahas penguatan internal organisasi. Salah satunya melalui pembenahan Kartu Tanda Anggota (KTA) Kadin.
Komisi A Rapimprov membahas upaya memperkuat administrasi dan pelayanan keanggotaan, termasuk persoalan perpanjangan KTA serta kendala teknis sistem digital Kadin Pusat.
Pembenahan tersebut dinilai penting agar anggota Kadin semakin terintegrasi dalam ekosistem organisasi dan mendapatkan pelayanan administrasi yang lebih baik.
Momentum HUT ke-58 Kadin sekaligus menjadi ruang untuk melihat kembali peran organisasi dalam memperkuat dunia usaha di tengah perubahan ekonomi.
Dunia Usaha dan Pemerintah Didorong Bersinergi
Pada sesi penutupan, Buchari juga menyampaikan perhatian terhadap kondisi Kabupaten Solok yang terdampak bencana.
Ia berharap proses pemulihan dapat segera berjalan dan mendapat perhatian bersama dari pemerintah maupun dunia usaha.
Menurutnya, pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana aktivitas ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan.
“Harapan kita Kabupaten Solok segera pulih. Pemerintah dan dunia usaha perlu memberikan perhatian agar masyarakat dan aktivitas ekonomi di daerah yang terdampak bencana bisa kembali bangkit,” ujarnya.
Rapimprov Kadin Sumbar 2026 kemudian menjadi momentum untuk mempertemukan dua agenda sekaligus: memperkuat fondasi internal organisasi dan menangkap peluang ekonomi eksternal.
Dengan IORA 2027 di depan mata, Kadin Sumbar mendorong agar komoditas unggulan, pariwisata dan potensi investasi daerah dipersiapkan sejak sekarang sehingga momentum internasional tersebut dapat memberikan manfaat bagi dunia usaha dan perekonomian Sumatera Barat.(FF)




