
Jakarta, 11 September 2026— Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sumatera Barat mendorong diplomasi ekonomi daerah semakin terkoneksi dengan jaringan internasional. Langkah itu diwujudkan melalui pengajuan kehadiran Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dalam KADIN Indonesia Monthly Economic Diplomacy Breakfast (K-MED) di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Forum yang mempertemukan KADIN Indonesia dengan kalangan diplomatik tersebut dinilai menjadi momentum strategis bagi Sumatera Barat untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus membangun komunikasi awal dengan 23 negara anggota Indian Ocean Rim Association (IORA).
Ketua KADIN Sumatera Barat Ir. Buchari Bachter, MT mengatakan, undangan kepada Gubernur Mahyeldi bukan sekadar untuk menghadiri agenda K-MED, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membawa Sumatera Barat masuk lebih jauh dalam percakapan ekonomi internasional.
Menurut Buchari, keberadaan para duta besar negara anggota IORA merupakan peluang yang harus dimanfaatkan Sumatera Barat secara maksimal, terutama menjelang rencana pelaksanaan berbagai agenda IORA di Sumatera Barat pada September 2027.
“Kami melihat forum ini sebagai momentum yang sangat strategis. Gubernur dapat menyampaikan langsung kepada para duta besar mengenai potensi Sumatera Barat dan kesiapan daerah menjadi bagian dari agenda IORA. Ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi bagaimana diplomasi tersebut dapat membuka ruang kerja sama ekonomi dan investasi,” ujar Buchari.
Dalam surat resmi KADIN Sumbar kepada Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya N. Bakrie, KADIN Sumbar secara khusus memohon alokasi waktu bagi Gubernur Mahyeldi untuk mempresentasikan rencana acara IORA yang akan diselenggarakan di Sumatera Barat sekaligus mengundang para duta besar negara anggota IORA untuk hadir dalam agenda tersebut.
Mahyeldi Tawarkan Sumbar sebagai Gerbang Samudra Hindia
Dalam paparannya, Gubernur Mahyeldi membawa pesan bahwa Sumatera Barat memiliki posisi strategis sebagai salah satu daerah Indonesia yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.
Konsep yang ditawarkan Sumbar adalah “West Sumatra: An Invitation from the Indian Ocean”, dengan menggabungkan kekuatan pariwisata, budaya, kuliner, ekonomi kreatif serta peluang investasi.
Mahyeldi memperkenalkan empat pengalaman utama Sumatera Barat kepada komunitas internasional, yakni Indian Ocean, Highlands, Living Heritage, dan Cuisine.
Pada sektor wisata bahari, Sumbar memiliki Mentawai dan Mandeh yang menawarkan kekuatan wisata kepulauan, selancar, panorama laut dan pengalaman bahari. Sementara kawasan Bukittinggi dan Harau menjadi representasi wisata dataran tinggi dengan lanskap alam yang kuat.
Dari sisi warisan budaya, Pagaruyung dan Sawahlunto ditawarkan sebagai destinasi yang menggabungkan sejarah, budaya dan pengalaman masyarakat. Adapun Padang dan berbagai nagari di Sumatera Barat diperkenalkan melalui kekuatan kuliner, khususnya rendang dan kekayaan gastronomi Minangkabau.
Dalam konteks IORA, Mahyeldi juga membawa gagasan agar hubungan negara-negara kawasan Samudra Hindia tidak berhenti pada hubungan diplomatik, tetapi berkembang menjadi kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.
Karena itu, rencana Padang 2027 Indian Ocean High-Level Forum diposisikan sebagai momentum untuk mempertemukan pemimpin, pelaku usaha, investor dan pemangku kepentingan dalam membangun kerja sama kawasan.
Konsep “One Ocean, Boundless Opportunities” yang ditawarkan Sumbar diarahkan pada tiga agenda besar, yakni dialog tingkat tinggi, pertemuan pariwisata dan investasi, serta forum ekonomi biru.
Menpar Perkenalkan Pariwisata Indonesia
Momentum K-MED tersebut semakin penting dengan adanya pengenalan sektor pariwisata Indonesia kepada para duta besar negara anggota IORA oleh Menteri Pariwisata RI
Pengenalan ini menjadi peluang untuk menempatkan Sumatera Barat dalam peta promosi pariwisata Indonesia kepada negara-negara kawasan Samudra Hindia.
Bagi KADIN Sumbar, diplomasi pariwisata tersebut perlu dilanjutkan menjadi diplomasi ekonomi. Potensi destinasi seperti Mentawai, Mandeh, Bukittinggi, Harau, Pagaruyung dan Sawahlunto tidak hanya dipromosikan sebagai tempat kunjungan wisata, tetapi juga sebagai ruang investasi dan pengembangan ekonomi daerah.
Buchari mengatakan, Sumatera Barat memiliki modal yang lengkap untuk dikembangkan melalui kerja sama internasional.
“Yang kita tawarkan bukan hanya keindahan alam. Kita memiliki budaya Minangkabau, kuliner, ekonomi kreatif, wisata bahari dan peluang investasi. Karena itu, ketika para duta besar mengenal Sumatera Barat, harapannya akan muncul ketertarikan untuk membangun kerja sama yang lebih konkret,” katanya.
Tantangan Sumbar: Wisatawan Datang, Tinggal Lebih Lama
Dalam presentasi yang dibawa Sumatera Barat, potensi pasar wisata domestik terlihat sangat besar. Namun, pada saat yang sama, kunjungan wisatawan internasional masih menjadi ruang yang perlu diperkuat.
Karena itu, salah satu strategi yang didorong adalah memperbaiki aksesibilitas dan kualitas pengalaman wisata sehingga wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak di daerah.
Bagi KADIN Sumbar, persoalan tersebut tidak semata-mata menjadi tugas pemerintah. Dunia usaha juga harus mengambil peran dalam membangun ekosistem pariwisata yang kompetitif.
“Kalau akses internasional semakin terbuka, dunia usaha di Sumatera Barat harus siap. Hotel, transportasi, UMKM, ekonomi kreatif, kuliner dan berbagai sektor pendukung harus mampu menangkap peluang tersebut,” ujar Buchari.
Menurut dia, KADIN berada pada posisi penting untuk mempertemukan pemerintah dengan pelaku usaha, termasuk calon mitra dari luar negeri.
IORA 2027 Harus Tinggalkan Warisan Ekonomi
Buchari berharap agenda IORA di Sumatera Barat pada 2027 tidak berhenti sebagai event internasional yang selesai setelah acara ditutup.
Ia justru mendorong agar momentum tersebut menghasilkan legacy ekonomi bagi Sumatera Barat, mulai dari investasi baru, kerja sama perdagangan, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara hingga terbukanya jejaring bisnis bagi UMKM dan pelaku usaha daerah.
“Kita ingin setelah IORA selesai, ada sesuatu yang tertinggal untuk Sumatera Barat. Ada investor yang masuk, ada kerja sama yang berjalan, ada wisatawan yang datang dan ada pelaku usaha lokal yang naik kelas. Itu yang harus kita kejar,” tegasnya.
Ia menambahkan, KADIN Sumbar siap berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan KADIN Indonesia untuk mempersiapkan agenda tersebut.
“Pemerintah mempunyai kebijakan dan otoritas, KADIN mempunyai jaringan dunia usaha. Kalau ini kita satukan, Sumatera Barat bisa lebih siap memanfaatkan momentum internasional yang akan datang,” katanya.
Dengan demikian, undangan Gubernur Mahyeldi dalam K-MED menjadi salah satu langkah awal KADIN Sumbar membangun jembatan antara diplomasi, pariwisata dan investasi.
Bagi Sumatera Barat, 23 negara anggota IORA bukan hanya daftar negara yang hadir dalam sebuah forum, tetapi 23 pintu potensial untuk memperluas jejaring Ranah Minang ke kawasan Samudra Hindia (YF)



